Category Archives: Budaya

Gedung Syarifah Ambami Rato Ebuh Bangkalan

                                      Gedung serba guna ‘Syarifah Ambami Rato Ebuh’ Bangkalan

Bangkalan – Saat ini masyarakat Bangkalan telah memiliki gedung baru serba guna  ‘Syarifah Ambami Rato Ebuh’ yang representatif. Gedung megah yang berdiri sebelah utara alun-alun Bangkalan ini dibangun di atas tanah eks Pasar Baru Bangkalan (kini dpindahkan ke kawasan Ring Road Timur). Dengan menelan anggaran pembangunan sebesar 16 milyar, seluruhnya berasal dari APBD tahun anggaran 2011, gedung yang dibangun dengan memadukan gaya arsitektur modern dan gaya bangunan khas Bangkalan ini diresmikan penggunaanya oleh Bupati Bangkalan, R.KH. Fuad Amin Spd. (jum’at,13/4). Pemberian nama ‘Syarifah Ambami Rato Ebuh’ (istri Pangeran Cakraningrat I, salah seorang dari raja-raja yang memerintah Madura pada masa kerajaan Mataram) sebagai nama gedung baru ini merupakan atas inisiatif bupati sendiri, tidak lain bertujuan mengajak generasi sekarang untuk senantiasa selalu ingat betapa demikian besar dan pentingnya peran tokoh ini dalam mendampingi suaminya, Cakraningrat I sebagai raja yang memimpin pemerintaan  dalam rangka  mewujudkan kesejahteraan masyarakat madura, khususnya masyarakat Bangkalan pada saat itu.

       Sebagai gedung yang memiliki multi fungsi yang berada di kawasan strategis jantung kota, direncanakan pula akan segera dilengkapi dengan berbagai fasilitas umum lainnya seperti tempat penginapan, outlet penjualan souvenir dan oleh-oleh khas Bangkalan maupun fasilitas penunjang lainnya. Penyediaan tempat penginapan baru di Bangkalan,  tampaknya memang sudah waktunya dilakukan, hal  ini terkait karena masih minimnya jumlah tempat usaha penginapan, baik sekelas melati maupun hotel maupun masih masih terbatasnya sentra-sentra penjualan oleh-oleh di Bangkalan,  sedangkan jumlah tamu dari luar daerah yang berkunjung ke kota salak belakangan ini terlihat semakin meningkat, terutama  sejak pasca beroperasinya Jembatan Suramadu maupun terkait dengan segera  akan dibukanya Bangkalan Plasa (Fadmoh).  Sebagai salah satu asset dan dikelola langsung oleh Pemkab Bangkalan, gedung serba guna yang memiliki daya tampung seribu tamu dan dilengkapi dengan areal parkir yang luas serta taman-plasa ini, dipandang  memiliki prospek nilai komersial yang cerah serta memiliki daya saing yang tinggi. Diharapkan, kedepan nantinya berdampak posisitf  bagi peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Areal Plasa di kompleks Gedung Rato Ebuh

Desain eksterior serambi muka

Panggung dan back-drop ruang pertemuan

Areal parkir dan latar belakang pembangunan tempat penginapan

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Budaya

Seni Budaya Bangkalan

Tari  ‘cakang’

Bangkalan  – Membangkitkan kembali apresiasi masyarakat terhadap budaya daerah, seperti pada kesenian tari tradisional,  memang tidaklah  mudah,  terutama dilakukan di tengah demikian derasnya arus modernisasi yang kini telah melanda semua bidang kehidupan. Sebenarnya, beberapa tahun yang lalu telah ada upaya yang dilakukan oleh sekelompok pemerhati budaya, diantaranya oleh kelompok yang menamakan diri “komunitas tera’ bulan’, melakukan kegiatan apresiasi seni pada setiap malam bulan purnama. Namun kegiatan ini tidak bisa bertahan lama dan tidak muncul lagi, penyebabnya mungkin sudah jenuh atau kurang lagi mendapatkan perhatian dari masyarakat.  Tampaknya belakangan ini telah ada upaya untuk tetap melestarikan kesenian daerah, khususnya budaya Bangkalan sebagaimana yang dilakukan oleh komunitas Sanggar Tari Tarara. Dari usianya,  memang masih relatif muda, namun komunitas seni yang dipimpin oleh Sudarsono ini telah menghasilkan karya-karya tari yang mengagumkan. Dengan mengkolaborasikan antara alat kesenian tradisonal seperti gamelan, gambang, jidor dengan alat musik modern seperti gitar akustik, Darso (panggilan akrab), telah mampu menghasilkan beberapa kreasi baru seni tari yang kontemporer akan tetapi sarat dengan nuansa budaya madura.   Beberapa terobosan telah dilakukan oleh Darso untuk memperkenalkan karyanya kepada publik, tidak hanya melalui berbagai moment maupun event yang ada di Bangkalan. akan tetapi juga melakukan tour ke beberapa kota seperti ke Sampang, Surabaya bahkan ke Jakarta (Taman Mini, Jaya Ancol).

        Diantara hasil karya tarinya yang spektakuler adalah tari ‘rampak jidor’. Tari yang seluruh penarinya para dara ini merupakan tari yang menggambarkan karakter orang madura yang sangat relegius. Seluruh gerak dan alunan irama nyanyian yang mengiringi tari ini mengungkapkan sikap dan  ekspresi sebuah puji-pujian, do’a dan dzikir kepada Allah SWT.  Dzat Yang Maha Kuasa dan Maha Pemberi.  Selain tari jidor adalah tari ‘bedoyo djukenes’, sebuah tari yang menurut riwayat merupakan tari yang biasa digelar untuk menyambut kedatangan prabu Cakraningrat IV yang dikenal pula dengan Pangeran Sidingkap, salah satu dari raja-raja yang memerintah madura di masa lampau. Tari bedoyo djukenes ini merupakan tari yang mengandung maksud sebagai ekspresi ucapan selamat datang kepada prabu seraya memohon kepada Yang Maha Kuasa untuk memberikan perlindungan dan keselamatan kepada beliau dalam memimpin rakyat madura menuju rakyat yang sejahtera, adil dan makmur.



Tari “rampak jidor”, Bangkalan

Komunitas Sanggar Seni ‘Tarara’, pimpinan Sudarso

5 Komentar

Filed under Budaya

Cagar Budaya Bangkalan

Pintu masuk makam Aer Mata Ebuh Arosbaya Bangkalan

Salah satu pintu koridor kompleks makam Aer Mata Arosbaya, Bangkalan

Kekayaan motif ukiran pada makam Aer Mata Arosbaya

2 Komentar

Filed under Budaya

Hari Lingkungan Hidup dan Refleksi Pelestarian Hutan Pesisir Bangkalan

        Salah satu kawasan hutan manggrove di pesisir pantai utara Bangkalan

        Hari Lingkungan Hidup se-dunia yang jatuh pada tanggal 5 Juni 2011, kemarin, tampaknya memberikan arti tersendiri bagi Kabupaten Bangkalan, sebagai salah satu wilayah kepulauan  Madura yang memiliki keadaan alam yang kompleks terdiri dari daratan dan perairan. Berangkat dari Tema HLH 2011 yang ditetapkan oleh UNEP adalah  Forest : Nature At Your Service” dan tema untuk Indonesia adalah ” Hutan Penyangga Kehidupan “, mendesak kita untuk segera mengevaluasi dan mengkalkulasi kembali seberapa jauh konsistensi yang bisa diwujudkan dalam menganut model pembangunan yang berbasis lingkungan.
        
       Terlepas dari berbagai adanya rencana akselerasi pembangunan dan pengembangan wilayah di beberapa kawasan pesisir Bangkalan, yang berdampak pada alih fungsi kawasan. Beberapa upaya pelestarian kawasan hutan telah dilakukan pada kurun waktu lima belas tahun terakhir ini. diantaranya adalah pembangunan hutan bakau disepanjang kawasan pesisir utara maupun pesisir selatan Bangkalan. Beberapa jenis tanaman mangrove yang cocok ditanam di dua kawasan ini disamping jenis bakau, api-api dan tinjang, juga cocok pula untuk jenis pohon nipah (arosbaya). Hutan mangrove sepanjang pesisir Bangkalan ini, beberapa tahun ini telah berhasil mengurangi tingkat abrasi lair aut dan menjadi habitat beberapa jenis satwa dan aneka ragam hayati kehidupan laut.
       

Penanaman Mangrove di pantai Tengket, Arosbaya

       Di beberapa kawasan tertentu, ketebalan dan luas lahan hutan mangrove ini semakin bertambah setiap tahun, karena  intensifnya usaha penghijauan yang dilakukan instansi terkait. Akan tetapi terdapat pula beberapa lokasi kawasan pesisir yang sampai saat ini belum dapat dihutankan lantaran tingginya tingkat abrasi air laut yang disebabkan curamnya bibir pantai, seperti di pesisir wilayah Tnjung Bumi, Klampis, Sukolilo Timur, Batah Barat, Pangpajung maupun beberapa kawasan pesisir lainnya. . Beberapa kali usaha penanaman bibit mangrove di kawasan kritis ini telah dilakukan, akan tetapi tidak membuahkan hasil, kebanyakan karena diterjang maupun terbawa arus ombak. 

Hutan bakau di pantai Langpanggang, Modung

      Terlepas dari usaha penghijauan di seluruh pesisir Bangkalan, maka untuk mengurangi dampak abrasi, beberapa upaya terus dilakukan di beberapa kawasan pesisir yang kritis tersebut, diantaranya dengan membangun sejumlah bangunan ‘ break water ‘,  tangkis laut maupun pembentukan terumbu karang di beberapa lokasi yang pantainya bersebelahan dengan jalan raya.


                                                                                             Hutan jati di kawasan Geger

        Salah satu kawasan hutan di Bangkalan yang masih tetap terpelihara baik adalah hutan jati yang berada di kawasan geger, dataran tertinggi Bangkalan (< 240 m dari permukaan air laut. Kawasan yang masuk kategori hutan konservasi ini terintegrasi dengan makam ‘potre koneng’ yang legendaris. Sebagai salah satu objek wana wisata dan wisata religi, wilayah ini juga direncanakan dikembangkan menjadi arena olahraga hicking dan para layang karena ketinggiannya yang sangat ideal da panorama alamnya yang indah.

         Hasil produksi hutan Kabupaten baik yang berasal dari pengelolaan hutan rakyat maupun hutan negara dibawah pengelolaan Perum Perhutani, kapasitas produksinya terbilang cukup signifikan. Dari tingkat produksi kayu yang ada, akasia merupakan jenis pohon yang paling potensial menyumbangkan hasil kayu sebesar 47.950,00 M3, disusul oleh pohon jati sebesar 5.282,00 M3. Hasil produksi hutan yang lain adalah kayu mahoni, sengon, bambu maupun kayu pulai.

Tinggalkan komentar

Filed under Agama, Budaya, Ekonomi, Hukum, Lingkungan Hidup, Peraturan Daerah, sosial, Wana Wisata

Kapolda Cup : Event Bull Race Bangkalan

Setelah sukses menggelar acara gelar kerapan sapi seri ekshibisi, pada jum’at (27/5) lalu, kini Pemda Bangkaan tengah sibuk mempersiapkan acara yang sama.  Acara atraksi yang sarat dengan nilai budaya madura ini, rencananya akan dihelat di alun alun Bangkalan, pada hari minggu depan (19/6).  Kerapan sapi yang bertajuk  ‘Bull Race Event’, kali ini bukan lagi merupakan ekshibisi, melainkan seri kejuaraan memperebutkan piala ‘Kapolda CupJawa TimurBertempat di alun alun Bangkalan, acara ini akan diikuti oleh peserta pasangan sapi dari berbagai daerah Jawa Timur, khususnya peserta pasangan sapi yang berasal dari 4 (empat) kabupaten di wilayah madura. Perlu diketahui, event yang bertujuan untuk melestarikan warisan nilai budaya daerah ini, tidak hanya dilakukan secara temporer seperti kali ini, melainkan telah menjadi kalender tetap tahunan, yang merupakan event kerapan sapi se madura dalam rangka memperebutkan Piala Bergilir Presiden RI.  Acara yang biasanya di selenggarakan pada setiap bulan oktober tersebut dilaksanakan secara berjenjang mulai jenjang di masing – masing 4 (empat) kabupaten : Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep. Finalis masing – masing daerah ini maju dalam sesi grand final, memperebutkan kejuaraan umum.

Tinggalkan komentar

Filed under Budaya

Melestarikan Bangunan Cagar Budaya di Bangkalan

Benteng peninggalan belanda

BANGKALAN  –  Terdapat sejumlah bangunan tua, yang merupakan peninggalan masa kolonial, mengalami nasib yang sangat memprihatinkan. Diantara bangunan bersejarah yang terdapat di Kota Bangkalan, seperti bekas benteng pertahanan Belanda yang terletak di kawasan Sumur Kembang, kelurahan Pejagan, karena tidak terawat secara baik, kini hanya tinggal menjadi bangunan lapuk dan banyak ditumbuhi tanaman liar. Tidak itu saja, sampai saat ini sekitar bangunan banyak ditempati PKL yang menghalangi pandangan orang terhadap objek peninggalan.Melihat kondisi yang memprihatinkan ini, sudah saatnya perlu ada perhatian khusus dari Pemerintah Daerah agar bangunan yang bernilai sejarah ini tetap eksist. Untuk itu Pemkab Bangkalan perlu menganggarkan secara khusus untuk memelihara dan merawatnya secara rutin, demikian pula PKL yang ada sekitar benteng kuno bisa ditertibkan.

Banyak manfaat yang bisa diperoleh dengan mempertahankan kelestarian bangunan tua ini, selain untuk tujuan melestarikan nilai-nilai sejarah perjuangan rakyat bangkalan dalam mengusir penjajah (Belanda), juga untuk meningkatkan arus kunjungan wisatawan dalam dan luar daerah yang berdampak pada peningkatan pendapatan asli daerah. Untuk mencapai tujuan ini, maka perlu secara resmi menetapkan bangunan benteng ini sebagai salah satu bangunan cagar budaya di Bangkalan, sebagaimana halnya bangunan mercu suar di desa Sembilangan, juga bekas peninggalan Belanda, dimana kondisinya sampai saat ini masih terawat baik dan banyak dikunjungi orang dari dalam dan luar daerah.

Tinggalkan komentar

Filed under Budaya